Penyebab Difteri Pada Anak

difteri pada anak

Difteri merupakan infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Difteri sangat menular dan masuk kategori infeksi yang cukup serius dan membutuhkan penanganan dokter dengan segera. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria.

Menurut World Health Organization (WHO), telah tercatat dan dilaporkan kasus penyakit difteri mencapai 7.097 kasus yang tersebar di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa 90% dari orang yang terinfeksi difteri tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri dapat dicegah dengan imunisasi yang sudah ditetapkan dari pemerintah. Sebelum anak berusia 1 tahun diwajibkan melakukan imunisasi sebanyak 3 kali DTP.

Bakteri difteri yang terus berkembang akan menghasilkan racun dan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Bakteri ini juga akan menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Gejala Difteri

Ada beberapa gejala difteri yang bisa dikenali Bunda untuk memastikan si kecil terserang difteri atau tidak, seperti :

  • Demam tinggi dan menggigil
  • Sesak nafas, sakit tenggorokan dan suara serak
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher
  • Adanya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan pilek yang tidak kunjung sembuh

 

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Diagnosis awal biasanya dokter akan menanyakan apa yang dirasakan pasien, kemudian dokter akan mengambil sampel dari lendir hidung, tenggorokan maupun ulkus pada kulit. Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Jika terdeteksi tertular difteri maka akan dianjurkan untuk segera melakukan perawatan pada ruang isolasi dan diberikan pengobatab dengan jenis obat antibiotik dan antitoksin.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Selama 2 hari penderita difteri akan diberikan obat antibiotik. Dokter akan menganjurkan  mengkonsumsi antibiotik selama 2 minggu. Penderita akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri difteri dalam aliran darah.

Pemberian antitoksin berguna sebagai penetral racun difteri yang menyebar dalam tubuh penderita difteri. Sebelum memberikan antitoksin, dokter terlebih dahulu akan mengecek apakah pasien memiliki alergi pada antitoksin. Ketika ada reaksi alergi, maka dokter memberikan antitoksin dengan dosis yang rendah. Selain pasien yang terdeteksi difteri, orang-orang yang ada di lingkungannya maupun serumah disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena difteri mudah menular.

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan yang paling efektif untuk mencegah difteri menyerang adalah melakukan imunisasi. Imunisasi yang dilakukan adalah DTP.

DTP adalah imunisasi yang wajib diberikan bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Jika imunisasi ini dilakukan dapat mengurangi resiko terserang difteri seumur hidup.

Agar si Kecil tetap sehat dan daya tubuhnya semakin baik jangan lupa berikan vitamin sebagai tambahan nutrisinya. Vitabumin merupakan formula alami yang terbuat dari perpaduan madu + ekstrak albumin ikan gabus dan diperkaya temulawak. Apa saja manfaat Vitabumin, yaitu:

  1. Penambah Nafsu Makan Anak
  2. Penambah Berat Badan
  3. Meningkatkan Kekebalan Tubuh
  4. Meningkatkan Kecerdasan Otak
  5. Obat Demam
  6. Obat Batuk

Untuk pemesanan Vitabumin bunda bisa menghubungi Duta Vitabumin di WA 0811-273-5511.